10 Burung Terindah di Dunia

Inilah 10 burung terindah di Dunia, salah satunya ada burung merak lohh.

Cerpen Pelajaran dari Penjual Koran

Ini adalah salah satu cerpen buatan saya, di cerpen ini terdapat pesan moralnya juga.

Cerpen Jangan Menyerah

Ini adalah salah satu Cerpen buatan saya, awalnya ini adalah naskah untuk film untuk tugas saya, tapi diganti. Cerpen ini sudah saya edit jadi lebih singkat.

Tips Mempercantik Diri

Tips ini hanya tips sederhana dan mengandung unsur keagamaan..

200 Jenis Kupu Kupu Terindah ada di Indonesia

Sudah sangat terkenal Indonesia adalah negara yang indah. disini juga terdapat berbagai macam hewan dan tumbuhan salah satu nya Kupu kupu..

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

26 Januari, 2013

ASAL USUL BUAH BATU DAN CURUG ECE


ASAL USUL BUAH BATU
DAN CURUG ECE


Buah Batu yang dikenal dengan 'Pasar Kordon' sebagai pusat pembelajaan bahan-bahan pokok, membuat daerah tersebut menjadi buah bibir masyarakat kota Bandung. Keunikan nama 'Buah Batu', ternyata kaya akan cerita lisan yang cukup menarik baik bagi sastrawan maupun akademisi.
Namun, seiring berjalannya waktu, sastra lisan yang cukup terkenal itu lambat laun mulai memudar dan membias. Sangat disayangkan, setelah ditelusuri cerita asal usul 'Buah Batu' hanya dikenal oleh masyarakat lansia saja. Misalnya sebut saja Bah Adi Yunus (85 th ) salah satu  pribumi yang lama singgah di 'Buah Batu'. Ia menuturkan   asal usul Buah Batu dan Curug ECE dengan serius. Kini cerita Bah Adi sudah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

"Pada zaman dahulu ketika Abah kecil, Buah Batu tidak seperti sekarang padat penduduk, dan berjejeran perumahan-perumahan megah, gedung-gedung yang tinggi baik apartemen maupun sekolah mulai tingkat SD sampai Perguruan Tinggi.

Dulu itu, Buah Batu adalah hutan pohon bambu yang sangat mencekam.Apalagi didukung oleh aliran Curug yang sangat deras di pinggir jalan setapak yang senantiasa banjir, konon katanya banyak sekali korban yang jatuh terpeleset atau terjpit batu sampai meninggal, saat melintasi Curug tersebut sehingga menambah suasana semakin menakutkan. Curug tersebut di kenal dengan Curug ECE, yang sampai saat ini bisa kita saksikan. Ya ... walaupun kondisinya sudah tidak terawat, disebabkan karena air yang mengalir sudah terkontraminasi dengan sampah sisa para pedagang 'Pasar Kordon'. Alasan kenapa dikenal Curug ECE? Karena, dulu orang yang pertama kali meninggal di Curug ECE ini adalah Mang ECE salah satu penduduk asli yang setiap hari melintasi Curug ini bersama kerbau setelah selesai membajak sawah di ladang. Singkat cerita, Mang ECE dan kerbaunya mandi di Curug tersebut, kemudian entah kenapa dia terpeleset jatuh dan terhimpit batu besarsampai meninggal, dan anehnya mayatnya tidak ditemukan.Menurut warga sekitar konon katanya arwah Mang ECE dan kerbaunya sesekali muncul secara tiba-tiba dengan tangan melambai-lambai, seolah arwahnya mengajak terjun ke Curug tersebut sehingga meresahkan masyarakat. Selain Mang ECE masih banyak lagi korban yang ditelan  hanyut di Curug ECE misalnya Bapak Sukari teman terdekat Abah yang meninggal di sana. Itu sebabnya sampai sekarang di kenal Curug ECE, yang kini dijadikan jembatan oleh pemerintah dengan nama 'Jembatan ece'.

(Gambar 2. Curug ECE (13/12)
Kembali lagi ke Asal Usul Buah Batu, Diceritakan bahwasannya di pinggir Curug ECE ada satu pohon mangga yang sangat tinggi dan lebat daunnya.Kesuburan pohon itu dinantikan masyarakat setempat untuk diproduksi buahnya.
Namun, semakin tinggi pohon mangga itu, tak ada buah yang tumbuh disekitar dahan. Anehnya, pohon   mangga tersebut malah berbuah satu buah batu hitam yang kira-kira sebesar buah mangga.
Masarakat dihebohkan dengan keanehan pohon mangga tersebut. Oleh karena itu dinamakan 'Buah Batu', karena berasal dari kata 'Buah' yaitu dikenal oleh suku Sunda 'mangga'   dan 'Batu'. Jadi sampai sekarang disebut 'Buah Batu'.
Tidak lama setelah batu itu muncul, tiba-tiba batu itu jatuh tepat di depan pohon mangga.
Batu yang awalnya kecil, terus tumbuh menjadi sebongkah batu yang sangat besar. Masyarakat menjas bahwa batu itu hidup dan akan tumbuh besar setiap harinya. Karena keanehan itulah batu yang besar itu dijadikan tempat ziarah penduduk Buah Batu zaman itu dan disebut 'Abah Batu', yang kebetulan pada waktu itu karuhun yang menjaga 'Batu hidup' itu bernama 'Abah Dalam Wira Suta' yang sampai saat ini makamnya sering di jadikan tempat ziarah. Konon katanya, ketika kita bisa memeluk batu besar itu, maka dia akan mendapatkan kebahagiaan dan kekayaan yang melimpah, namun sebaliknya apabila kita tidak beruntung maka batu itu akan bertambah besar sehingga tidak dapat dipeluk.
 Kini pohon mangga yang berbuah batu itu tidak lagi berbuah namun pohonnya semakin tinggi dan lebat daunnya. Maka disebutlah 'Batu Nunggal' yang artinya 'Batu Satu'. Sampai saat ini dijadikan nama daerah 'Batu Nunggal'.  *** 

19 Januari, 2013

Sejarah Kota Bandung

Pada dasarnya asal usul nama Bandung ini banyak sekali versinya.

Dalam buku tulisan Haryoto Kunto, dapat ditemukan bahwa kata Bandung, berasal dari kata Bandong, sesuai dengan penemuan sebuah negeri kecil oleh seorang Mardijker bernama Julian de Silva. Dan tercatat pula bahwa Dr. Andries de Wilde, seorang pemilik kebun kopi yang sangat luas di daerah ini, meminang seorang gadis dan kemudian menikahinya yang berasal dari Kampung Banong (di daerah Dago Atas).

Malah ada pula yang berpendapat Kata Bandung berasal dari sebuah nama pohon Bandong ‘Garcinia spec’ (Heyne : 1950 Jilid III, pada halaman 2233, menyebutkan bahwa Bandong ‘Garcinia spec’ sejenis pohon yang tingginya 10 - 15 m dan besar batangnya 15 - 20 cm, dengan batang tak bercabang. Pohon ini dieksploitasi setelah berumur 20 - 30 tahun, dengan cara menoreh kulit kayu sedalam 2 - 3 mm akan mengalirkan cairan kekuning-kuningan. Menurut Wiesner’s Rohstoffe digunakan untuk pengobatan, mewarnai pernis-pernis spirtus, lak emas ‘goudlak’, cat air dan fotografi. Jadi nama Bandung berasal dari Bandong yang sesuai dengan sebuah nama kampung yang telah ditemukan oleh seorang Mardijker bernama Julian de Silva di atas.

Menurut penulis buku Wisata Bumi Cekungan Bandung, T. Bachtiar, Bandung juga artinya adalah persahabatan/perdamaian. Berasal dari Bahasa Kawi, Bandung artinya bersama-sama, bersahabat, bersaing, mendampingi, dan saling tolong menolong.

Mengenai asal-usul nama "Bandung", dikemukakan berbagai pendapat. Sebagian mengatakan bahwa, kata "Bandung" dalam bahasa Sunda, identik dengan kata "banding" dalam Bahasa Indonesia, berarti berdampingan. Ngabanding (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1994) dan Kamus Sunda-Indonesia terbitan Pustaka Setia (1996), bahwa kata bandung berarti berpasangan dan berarti pula berdampingan.


Pendapat lain mengatakan, bahwa kata "bandung" mengandung arti besar atau luas. Kata itu berasal dari kata bandeng. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng berarti genangan air yang luas dan tampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Diduga kata bandeng itu kemudian berubah bunyi menjadi Bandung. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa kata Bandung berasal dari kata bendung.
Pendapat-pendapat tentang asal dan arti kata Bandung, rupanya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen (± 6000 tahun yang lalu).
Akibatnya, daerah antara Padalarang sampai Cicalengka (± 30 kilometer) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu sampai Soreang (± 50 kilometer) terendam menjadi sebuah danau besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Danau Bandung atau Danau Bandung Purba. Berdasarkan hasil penelitian geologi, air Danau Bandung diperkirakan mulai surut pada masa neolitikum (± 8000 - 7000 sebelum Masehi). Proses surutnya air danau itu berlangsung secara bertahap dalam waktu berabad-abad.
Secara historis, kata atau nama Bandung mulai dikenal sejak di daerah bekas danau tersebut berdiri pemerintah Kabupaten bandung (sekitar decade ketiga abad ke-17). Dengan demikian, sebutan Danau Bandung terhadap danau besar itu pun terjadi setelah berdirinya Kabupaten Bandung.

Sejarah Gedung Sate


Gedung Sate didirikan pada 27 Juli 1920, gedung ini awalnya memang dibangun sebagai pusat pemerintahan pada saat itu dimana Pemerintahan Belanda menetapkan Kota Bandung sebagai Ibukota negeri jajahannya di Indonesia. Pemilihan Kota Bandung didasarkan pada pertimbangan iklim yang cocok karena Kota Bandung begitu sejuknya ditambah pemandangan alam yang indah. Konon, iklim Kota Bandung saat ini senyaman Prancis Selatan di Musim panas.

Dengan penetapan pusat pemerintah itu, maka dibangunlah Gedung Sate atau Gouvernements Bedrijven sebutannya di masa itu dengan perencanaan yang dibuat secara matang oleh suatu tim yang diketuai Kolonel Purnawirawan V.L. Slors, beranggotakan antara lain Ir. J. Berger, arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan In G. Hendriks serta pihak "Gemeete van Bandoeng".

Tim bertugas merencanakan dan membangun berbagai gedung perkantoran yang merupakan pindahan dari keseluruhan departemen dan instansi lainnya yang berjumlah 14 dari Batavia (Jakarta) ke Bandung, termasuk pembangunan komplek perumahan untuk menampung sekitar 1500 pegawai pemerintahan. Setelah berhasil disusun perancanaan pembangunan GB, dilakukan peletakan batu pertama gedung "GB" pada tanggal 27 Juli 1920 oleh Johana Catherina Coops, putri sulung Walikota Bandung B. Coops dan Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia.

Pembangunan Gedung Sate melibatkan sekitar 2000 pekerja, 150 orang diantaranya pemahat atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton. Selebihnya adalah tukang batu, kuli aduk, dan peladen yang merupakan pekerja bangunan yang berpengalaman menggarap Gedong sirap (Kampus ITB) dan Gedong papak (Balai Kota). Mereka adalah pendudukan dari kampung Sekeloa, Coblong, Dago, Gandok, dan Cibarengkok.

Selama kurun waktu empat tahun lamanya, di awal tahun 1924 berhasil diselesaikan Kantor Pusat PTT kemudian dilanjutkan dengan pembangunan induk bangunan utama GB yang tuntas dikerjakan pada September 1924 termasuk bangunan perpustakaan.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More