21 Januari, 2013

Sejarah Cadas Pangeran



Sumedang, kota kabupaten hasil ‘reinkarnasi’ dari Kerajaan Sumedang Larang yang tersohor sebagai penerus kejayaan Kerajaan Pajajaran pasca keruntuhannya tahun 1579 M (Naskah Wangsakerta). Beberapa raja yang terkenal dari Sumedang Larang ialah Prabu Tadjimalela dan Prabu Geusan Ulun. Setelah Kesultanan Mataram dibawah pimpinan Sultan Agung menginvasi wilayah Priangan pada abad 17, status Sumedang Larang diturunkan derajatnya menjadi Kadipaten (Kabupaten),yang berada dibawah kendali seorang adipati atau bupati.
Memasuki masa kolonialisme, kadipaten Sumedang berada dalam genggaman kuasa kolonial Eropa. Seperti halnya wilayah lain di nusantara, rakyat Sumedang pun telah menorehkan riwayat perlawanan yang gigih terhadap penguasa kolonial. Salah satu kisah terkenal dari perlawanan rakyat Sumedang adalah peristiwa Cadas Pangeran.
Perlawanan Simbolik
Cadas Pangeran merupakan jalan raya sepanjang tiga kilometer penghubung Sumedang dengan wilayah Bandung  yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendles (1808-1811) pada tahun 1809. Peristiwa Cadas Pangeran ini dapat diartikan sebagai sebuah tindakan perlawanan simbolik atau protes dari Bupati Sumedang ketika itu, Pangeran Kusumadinata IX (1791 – 1828), terhadap ambisi Gubernur Jendral Herman Willem Daendels yang berniat membangun jalan dari Anyer ke Panarukan. Pangeran Kusumadinata IX atau yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Kornel marah melihat rakyatnya diperlakukan semena-mena oleh Daendels.
Seperti yang dikisahkan oleh para sesepuh Sumedang, peristiwa Cadas Pangeran berawal dari pertemuan Pangeran Kusumadinata IX dengan Gubernur Daendels ditengah-tengah proses pembangunan jalan raya teresbut. Dikisahkan, Pangeran Kusumadinata IX melakukan jabat tangan dengan sang Gubernur menggunakan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan sang pangeran siap menghunus keris pusaka. Konon tindakan tersebut membuat Daendels terkejut.
Adegan heroik itu kini diabadikan secara visual pada sebuah patung di pertengahan jalur Bandung-Sumedang. Peristiwa itu juga yang kini dijadikan  nama jalan tersebut, yakni jalan Cadas Pangeran. Jadi, istilah Cadas Pangeran bagi sebagian kalangan merefleksikan watak keras atau ‘cadas’ dari sang Pangeran Sumedang. Namun ada pula makna lainnya, yakni daerah tersebut memang memiliki areal yang berbukit cadas. Bukit cadas itulah yang diubah menjadi bagian dari jalur yang dibangun Daendels tersebut. Pekerjaan merubah sebuah bukit cadas menjadi jalan raya itulah yang mendatangkan penderitaan hebat bagi rakyat Sumedang, yang direkrut menjadi pekerja paksa (rodi) dan memicu kemarahan Pangeran Kusumadinata IX selaku penguasa Sumedang.
Selain memprotes secara simbolik, menurut cerita, Pangeran Kornel juga menantang Daendels duel satu lawan satu. Pangeran Kornel berkata bahwa dirinya selaku adipati Sumedang lebih baik berkorban sendiri daripada harus mengorbankan rakyat Sumedang.
Mendengar hal tersebut, Daendels pun terpaksa merubah siasat. Daendels berjanji pada sang Pangeran bahwa tentara Zeni Belanda akan mengambil alih pekerjaan pembuatan jalan. Sedangkan rakyat Sumedang dipersiapkan sebagai tenaga cadangan saja.
Namun, Daendels tengah bermuslihat. Beberapa hari kemudian, Gubernur yang dijuluki ‘Mas Galak’ oleh rakyat Jawa itu membawa ribuan pasukan Belanda dengan tujuan menumpas perlawanan Pangeran Kornel dan rakyat Sumedang. Rakyat Sumedang dibawah pimpinan Pangeran Kornel beserta segenap pembesar Sumedang lainnya melawan dengan gigih penindasan Belanda tersebut. Karena kekuatan Belanda yang tangguh, akhirnya pemberontakan Pangeran Kornel berhasil dipadamkan. Pangeran Kornel dan ratusan rakyat Sumedang gugur dibantai pasukan Belanda.
Sebuah Riwayat Perlawanan
Pada masa kini, keabsahan kisah Cadas Pangeran sebagai sebuah persitiwa sejarah digugat banyak pihak. Beberapa pihak meragukan heroisme sang Pangeran dalam membela rakyatnya, apalagi saat itu Pangeran Kornel masih berusia belia. Pangeran Kornel juga dipandang sebagai ‘produk’ feodalisme Mataram yang pada umumnya tunduk pada pemerintah kolonial Belanda.  Ada pula yang menyangsikan terjadinya pertempuran antara rakyat Sumedang dengan Belanda pasca peristiwa Cadas Pangeran, karena hal itu hanya berasal dari cerita yang dituturkan secara turun temurun dikalangan petinggi dan rakyat Sumedang.
Namun, bagaimanapun, riwayat perlawanan rakyat Sumedang yang tercermin dalam kisah Cadas Pangeran itu dapat memberikan spirit perlawanan bagi rakyat Sumedang bagi perjuangan melawan imperialisme modern kini. Dari pengalaman penulis selama berjuang bersama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumedang, warga Sumedang memiliki semangat perlawanan yang cukup hebat terhadap berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah baik di tingkat lokal maupun nasional yang kerap kali di pengaruhi pihak kapitalis dan abai pada kepentingan rakyat miskin (Marhaen).
Penolakan kaum buruh Sumedang terhadap penetapan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Sumedang diakhir tahun 2010, perjuangan kalangan pemuda Jatinangor atas rencana pembangunan Apartemen Pine Wood oleh pengembang Bandung Inti Graha Grup (BIGG)  dengan izin dari Pemkab Sumedang, penentangan kaum tani Manglayang terhadap kebijakan perluasan areal Taman Hutan Rakyat (Tahura) oleh Pemkab Sumedang, merupakan sebagian contoh konkret manifestasi semangat perlawanan rakyat Sumedang. Sehingga proses sosialisasi dan enkulturasi kisah Cadas Pangeran pada rakyat Sumedang hanya meningkatkan kesadaran kritis dan potensi perlawanan, yang sejatinya telah ada dalam sanubari kaum Marhaen Sumedang.
Keberanian Pangeran Kornel sebagai representasi pihak feodal dalam menentang kebijakan kolonial dalam kisah Cadas Pangeran juga dapat menjadi suri tauladan bagi Bupati dan para birokrat Pemkab Sumedang untuk lebih berpihak pada kepentingan rakyat banyak daripada segelintir orang yang memiliki kuasa modal.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih kunjungannya
Jangan Lupa Komen Dan Follow bila tertarik :)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More